Pertanyaan aneh jika seorang ibu tak mengenal anaknya. Ini juga terjadi pada diriku. Awal mulanya tak percaya bahwa aku sebenarnya tak mengenal anakku. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku setiap hari ketemu dengannya, walaupun pada saat itu aku bekerja, tetapi begitu pulang kerja, aku langsung mengasuh anakku, mendongeng dan tidur bersama anakku. Tiap cuti, aku selalu bersamanya, bercanda, mengantar sekolah , menatapnya, bermain dan bercanda, bersama-sama mendengarkan musik kesayangannya.
Rasanya tak ada yang tak kukenal diri anakku. Semuanya kukenal, phisiknya dari awal hinggal menjadi gempal, besar dan tumbuh menjadi gadis kecil.
Tapi suatu hari , anakku bingung menentukan untuk memastikan apakah dia memilih bidang sosial atau matematik/fisika/biologi. Keduanya ada yang disukainya ada yang tak disukainya. Aku sendiri ikut bingung karena tak mudah kuketahui pelajaran apa yang tak disukai dan disukai, di semua pilihan itu ada yang tak disukai. Pilihan yang sangat krusial , jika salah pilih bisa fatal pikirku.
Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba bertanya kepada seorang grapfolog. Aku dan anakku mengirimkan tulisan kami. Seminggu kemudian kami mendapat hasil dari analisa dari grafolog itu. Kami masing-masing membaca laporan itu, lalu kami bertukar . Aku membaca kepunyaan anakku. Anakku membaca kepunyaanku. Terkaget-kaget dan rasa tak percaya apa yang ditulisnya. Tetapi ada fakta kebenaran di sana. Aku memang tak mengenal anakku secara ke seluruhan. Secara phisik kukenal dia, tetapi secara pribadi, aku belum mengenalnya. Benturan demi benturan sering terjadi. Aku tak mengenalnya karena aku tak mengetahui jalan pikirannya. Ternyata bukan begitu, tetapi karena aku tak mengenal kepribadinnya. Salah satunya adalah dirinya yang penuh dengan perasaan halus. Aku tak tahu ini. Sehingga dalam komunkasi aku sering menggunakan kata keras, pedas jika ia dalam kondisi yang tak baik. Seharusnya aku tak menggunakan emosi pada saat dia sedang dalam kondisi down. Kata-kata dan komunikasi yang baik akan terjalin dan hubungan bisa lebih baik.
Sejak saat itu aku makin mengenal dirinya seutuhnya. Bukan hanya sebagai individu di depanku, tetapi sebagai anak yang mempunyai kelemahan dan kekuataan . Mengenalnya berarti juga memahami semua yang ada dalam dirinya. Aku tak lagi memandang kelemahannya sebagai kelemahan dirinya. Tetapi juga kelemahan itu harus dibuat menjadi kekuataan bagi dirinya. Semoga aku bisa membimbingmu sampai engkau sudah siap..................